Archive for the ‘Cerita Fiksi’ Category

November 19th, 2009 By phery Posted in Cerita Fiksi

Istriku Cemburu

Nama itu sudah lama redup dari pandanganku. Tak pernah sedikitpun dalam sepuluh tahun belakangan ini aku mendengar namanya, apalagi wujud tubuhnya. Tapi semenjak adanya situs jejaring social bernama facebook itu terbersit niatan untuk mencari deretan namanya.

Berawal saat searching teman-teman sekolah di Madiun sebelum aku pindah ke Jogja, mau tak mau namanya kembali teringat. Kuketikkan huruf demi huruf di kibot laptopku. Dengan sedikit keraguan kupencet tombol enter itu. Klik…….

Lanjut gak?

+ Continue Reading

Popularity: 28% [?]

November 4th, 2009 By phery Posted in Cerita Fiksi, Kreatifitas Semu

Surprise Dari Allah

Aku tak menyangka takdirku akan seperti ini. Memang selama ini aku selalu berdoa mendapatkan yang terbaik dari Allah. Tapi kali ini Allah seperti bercanda denganku. Maunya sih gak percaya, tapi kan gak enak sama Beliau yang udah ngasih amanah ini buatku.

Wanita itu memang sudah cukup lama kukenal. Tapi dulu dia kuanggap angin lalu saja karena memang aku tidak berkepentingan apapun dengannya kecuali urusan pekerjaan, itupun tidak secara langsung dengannya.

Seiring dengan kesibukanku sebagai manajer di sebuah perusahaan BUMN yang mengharuskanku selalu berkeliling Indonesia membuat bayangan mengenai dirinya menghilang. Apalagi, kemudian dia berpindah kerja sehingga tidak ada lagi kontak dengannya sama sekali.

Namun, sebulan yang lalu, rencana Allah untukku ditepati-Nya. Beliau mempertemukanku dengannya di kantor. Kebetulan, atau memang sudah digariskan, wanita itu ada tugas mengunjungi kantorku untuk menemui diriku. Kami pun langsung berkenalan.

“Dian, Dian Eka Anggraeni.” Begitu dia mengenalkan namanya.

“Muhammad Ilham, dipanggilnya Ilham,” aku juga mengenalkan jatidiriku.

Setelah urusan pekerjaan yang menjemukan selesai, obrolan kami lanjutkan di kafetaria samping kantor. Meski baru berkenalan, tapi aku sama sekali tidak canggung dan obrolan kami bias nyambung. Dian orang yang smart dan pandai berbicara. Itulah yang menyebabkan diriku betah berlama-lama ngobrol dengannya.

Obrolan hari itu selesai dengan aku mengantarkan Dian hingga ke depan jalan raya untuk mencari taksi yang membawanya pulang ke rumahnya.

Seminggu lamanya kami tidak bertemu. Ada perasaan gelisah yang mendera hatiku setiap malam. Jelas aku merindukannya. Pertemuan dan obrolan seru di kafetaria kala itu sungguh tidak bisa terlupakan menit per menitnya. Senyumnya, rambutnya, sampai gaya bicaranya pun terekam di rongga otakku.

Segera kuambil ponsel di rak meja kamarku. Kupencet huruf D untuk mencari nama Dian di daftar phonebook. Kuputuskan untuk segera menelpon dan menemuinya.

“Hah? Kamu gak bercanda kan mas? Kita kan baru kenal seminggu yang lalu,” itulah kalimat yang keluar dari mulut mungil Dian saat kukemukakan niatanku.

“Ya, aku saat ini sedang tidak bercanda. Aku serius ingin menjadikanmu pendamping hidupku. Kedua orangtuaku akan melamarmu dua hari lagi.” Kataku lebih mantap.

Sebenarnya, sudah kuceritakan perihal gejolak batinku ini ke orangtuaku. Mereka langsung menyuruhku untuk segera melamar Dian. Bagi mereka, inilah saat yang tepat bagiku untuk segera melepas masa lajangku.

Apalagi, bagi ayahku yang merupakan pemuka agama di daerahku, menikah langsung merupakan solusi tepat daripada harus pacaran yang dapat menimbulkan fitnah di sana-sini nantinya.

Ya, di usiaku yang sudah berkepala tiga memang dianggap bukan muda lagi. Karena kesibukanku, aku tidak memiliki waktu untuk berkenalan ataupun menjalin kasih dengan lawan jenis.

“Bagaimana?” tanyaku mengkoyak kesepian yang sempat menjalar diantara kami.

“Aku bersedia mas.”

Hening kembali menyelimuti suasana di luar sana………..

**

Satu hal yang bisa kita petik dari hal ini adalah bahwa Allah selalu merencanakan yang terbaik buat hamba-Nya. Semua surprise dari-Nya merupakan kado yang tak terhingga. Baik ataupun buruk adalah suratan takdir yang harus kita jalani.

Berbagai proposal doa yang selalu dipanjatkan tiap malam memang belum tentu langsung disetujui oleh Allah. Namun, saat Beliau menandatangani proposal itu dan memberi cap itulah saat yang tepat bagi kita untuk melaksanakan amanah dari Beliau.

Jalan hidup memang terkadang susah dan adakalanya sangatlah mudah bagi sebagian orang.

Popularity: 35% [?]

May 27th, 2009 By phery Posted in Cerita Fiksi

Aku Gak Bisa Terima

“Aku gak bisa terima! Ini pasti ulah dia!” Marno bersungut-sungut tak karuan di meja barunya.

Memang tidak ada seorang pun yang ada di ruangan itu tetapi jelas sekali terlihat kegelisahan di wajahnya. Wajah yang memendam marah sekaligus benci kepada seseorang.

Hari itu, seperti biasa Marno datang siang hari. Dia langsung berjalan menuju ke mejanya, namun di sana tak ditemukannya berkas-berkas kerjanya. Wajahnya berubah merah padam setelah tahu ternyata meja kerjanya sudah berpindah tempat.

Di ruangan yang kosong, karena saat itu sedang waktu istirahat, Marno mengumpat di depan meja barunya. “Oke, aku bakal bikin perhitungan dengannya”, batinnya penuh kesal.

“Aku gak terima kenapa mejaku dipindah! Ini pasti ulah Saiful yang menyuruh agar aku dipindah kan?”, protes Marno kepada manajernya, Bu Ningsih.

Bu Ningsih, manajer yang masih muda ini kaget tiba-tiba mendapat ’serangan mendadak’ dari Marno. “Kenapa No? Kok tiba-tiba kamu marah kayak gini. Jelasin dulu masalahmu kok ada nama Saiful juga”, ujar bu Ningsih sedikit bingung.

Bu Ningsih manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari Marno perihal kemarahannya. Tak beberapa lama, dia mengajak Marno berbicara lebih lanjut di ruang perpustakaan kantor, karena saat itu karyawan lainnya sudah kembali dari makan siang.

“Oke, aku sudah tahu masalahmu sekarang. Akan aku jelaskan kenapa mejamu dipindah. Yang menyuruh memindahkan mejamu itu aku. Kenapa harus pindah? Karena kamu saat ini satu tim dengan Tomi untuk proyek terbaru divisi kita. Komunikasi kerja akan sangat sulit kalau meja kalian saling berjauhan. Itulah yang menyebabkan kini mejamu didekatkan dengan meja Tomi.”

Marno masih diam saja mendengar penjelasan itu.

“Trus, kenapa kamu menduga ini ulah Saiful?, Tanya Bu Ningsih lagi.

“Mungkinkah kamu memiliki masalah dengannya hingga dalam kondisi seperti ini kamu menuding nama Saiful berada di balik semuanya?”, kembali Bu Ningsih bertanya.

Cukup lama Marno diam. Dia tampak berpikir merangkai jawaban yang tepat atas pertanyaan tegas dari Bu Ningsih.

“Orang itu licik!”

“Maksudmu?”

“Aku tahu Saiful itu licik. Jadi pasti ini sebenarnya ulah dia kan. Dia tidak ingin aku duduk di dekatnya”,  suara Marno mulai sedikit meninggi.

Bu Ningsih berusaha menenangkan emosi Marno yang mulai panas. Dia tahu persis bahwa Saiful tidak memiliki niat seperti yang dituduhkan Marno.

Bagaimana kelanjutan kisah Marno? Kita tunggu di postingan berikutnya.

Bersambung..

Popularity: 50% [?]