Archive for the ‘Napak Tilas’ Category

February 2nd, 2009 By phery Posted in Napak Tilas

Konvoi Kampanye Era Orde Baru

Setelah membaca salah satu postingan dari Mbak Madasari, Saya jadi teringat saat mengikuti kampanye terakhir era orde baru pada tahun 1997. Kala itu Saya yang masih kelas 3 SMP ikut kampanye PPP yang saat itu merupakan partai minoritas diantara 3 partai yang diakui pemerintah kala itu.

Sebagai anak muda yang masih bergejolak darah mudanya, ketertarikan kami adalah melakukan konvoi keliling dengan motor meraung-raung tanpa mempedulikan apa isi dari kampanye-kampanye yang dilakukan jurkam saat itu.

Sangat jelas di ingatan Saya saat itu bahwa untuk melakukan konvoi dengan atribut parpol minoritas tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus tetap berkelompok dan di jalur yang ditentukan oleh pemimpin rombongan.

Maklum, di era orde baru itu dalam hal kampanye pemilu tidaklah setransparan sejak masa reformasi mulai digulirkan. Apalagi kala itu saya merupakan anak PNS yang mau tidak mau harus menjadi pemilih partai paling mayoritas, Golkar.

Dalam berkonvoi kami harus berada di jalur yang ditentukan dan harus sudah selesai saat maghrib datang. Di tempat itu juga kami harus segera mencopot segala macam atribut parpol yang kami bawa termasuk kaos sekalipun.

Bila tidak? Saya melihat sendiri pengendara motor di depan Saya harus menerima pentungan Pak Polisi yang terhormat. Walhasil kami yang berada di belakangnya harus mematuhi perintah sang aparat.

Belakangan Saya ketahui, bahwa yang dilakukan Polisi tersebut untuk kebaikan kami juga agar terhindar dari hal-hal yang “menakutkan” yang tidak kami kehendaki. Wajar saja, masa itu yang tidak mendukung partai mayoritas dianggap “mbalelo” sama pemerintah.

Popularity: 100% [?]

April 21st, 2008 By phery Posted in Napak Tilas

Kartini, Pejuang Emansipasi Bangsa

kartiniHari ini adalah tanggal 21 April 2008. Pada tanggal yang sama 129 tahun yang lalu telah lahir seorang perempuan, anak dari Bupati Jepara kala itu, RM Sosroningrat, yang pada perkembangannya akan menjadi cikal bakal pejuang wanita yang tidak hanya dianggap sebagai pejuang bagi wanita saja tetapi juga perjuangan seluruh bangsa Indonesia, yaitu Raden Adjeng Kartini.

Sebagai seorang perempuan pribumi pada masa itu Kartini sangatlah beruntung karena dia bisa menamatkan diri sekolah di ELS (Europese Lagere School) dan bisa berbahasa Belanda tulis dan baca. Namun, setelah usia 12 tahun, seperti halnya wanita lainnya, dia harus menjalani pengitan yang berarti tidak boleh keluar dari pekarangan rumahnya.

Namun, karena memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat maju, gejolak Kartini tidak bisa tertahankan. Dia sering melakukan korespondensi dengan sahabat penanya di negeri Belanda untuk saling bertukar pandangan mengenai perkembangan jaman yang sedang terjadi. + Continue Reading

Popularity: 29% [?]

April 11th, 2008 By phery Posted in Napak Tilas

Mengenal Candi Bajang Ratu

candi bajangratuCandi Bajangratu atau yang dikenal sebagai Gapura Bajangratu adalah sebuah candi yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Bangunan ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Menurut catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, candi ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Jayanegara yang dalam NegaraKertagama disebut “kembali kedunia Wisnu” tahun 1328.

Diduga pula candi ini merupakan pintu gerbang menuju ke istana Majapahit. Dugaan ini didukung adanya relief “Sri Tanjung” dan sayap gapura yang melambangkan penglepasan.

Nama Bajangratu itu sendiri dikaitkan dengan tulisan dalam Pararaton dan cerita rakyat setempat. Disebutkan, ketika dinobatkan menjadi raja, Jayanegara masih sangat muda (bajang) sehingga diberi sebutan “Ratu Bajang atau Bajang Ratu”. Disitu juga disebutkan, bahwa ketika meninggal, Jayanegara didharmakan di Kepompongan serta dikukuhkan di Antawulan (kini Trowulan. Penyebutan Bajangratu muncul pertama kali dalam Oundheitkundig Verslag [OV] tahun 1915. + Continue Reading

Popularity: 26% [?]

November 9th, 2007 By phery Posted in Napak Tilas

Pahlawan Tak Dikenal

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

Oleh : Toto Sudarto Bahtiar

Popularity: 22% [?]

September 30th, 2007 By phery Posted in Napak Tilas

Jogja, Antara Dulu dan Sekarang

hotel yogyaSejak dahulu kota Jogja memang dikenal sebagai kota wisata. Tak heran banyak penginapan ataupun hotel yang tersebar di kawasan tersebut. Salah satu hotel yang paling terkenal dan terbesar di Jogja adalah Hotel Inna Garuda yang terletak tepat di gerbang kawasan wisata Malioboro.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa dahulu nama hotel ini bukanlah seperti namanya yang disebutkan di atas tadi. Nama awal dari Inna Garuda adalah Hotel Yogya. Meskipun bangunannya sudah banyak berubah tetapi seting lamanya masih ada yang dipertahankan. + Continue Reading

Popularity: 19% [?]

Page 1 of 212