March 3rd, 2009
By phery Posted in Catatan Ringan

Souvenir Kompetisi Blog

Beberapa bulan lalu Saya sempat mendaftarkan diri mengikuti kompetisi blog yang diadakan oleh Bugiakso.com. Bugiakso ini merupakan salah satu cucu menantu Jendral Sudirman yang mau “nyalon” jadi Presiden pada pemilu 2009 ini.

Bisa jadi kompetisi ini merupakan alat promosi bagi beliau. Tidak masalah sih sebab yang dilakukan beliau ini sangat positif bagi para bloggers dalam mengembangkan diri untuk menulis lebih baik.

Dalam kompetisi yang bertema “Aku Untuk Negeriku” ini Saya memang tidak meraih juara, tetapi apresiasi positif yang patut diberikan kepada bugiakso.com ini adalah seluruh peserta mendapat souvenir menarik berupa kaos.

Semoga apa yang sudah dilakukan oleh Bapak Bugiakso ini bisa ditiru oleh para caleg ataupun para capres dan cawapres yang berniat promosi diri dengan mengadakan kompetisi-kompetisi yang bernilai positif dan tidak melulu memasang baliho ataupun umbul-umbul yang menyesaki ruang jalan.

Selamat buat para pemenangnya. Terimakasih atas kaosnya. Langsung dipakai sama Avid loh.

Popularity: 35% [?]

February 23rd, 2009
By phery Posted in Catatan Ringan

Blogwalking Berujung Hadiah

Hobi blogwalking ternyata banyak mendapat sisi positif yang bisa diambil. Selain mendapat teman baru yang bermacam-macam dan memiliki ide-ide cemerlang soal ngeblog dan lain sebagainya, ternyata ada hal-hal lain yang di luar dugaan kita.

Beberapa waktu lalu saat berkunjung ke salah satu blog berbahasa Inggris yang dimiliki oleh mbak Latree iseng-iseng aku ngisi comment aja di salah satu postingannya. Itung-itung meninggalkan jejak link blog di sana yang pengunjungnya rata-rata memang makhluk berbahasa asing.

Tapi tak sangka, beberapa hari kemudian si mbak ini mengisi comment di blog ku seperti gini :


Gak sangka, ternyata aku termasuk salah satu diantara 3 orang lainnya yang beruntung mendapatkan souvenir dari dia. Aku dapat sandal jepit dari batik yang gambarnya bisa dilihat di atas itu.

Makasih banged buat mbak Latree yang sudi memberikan bingkisan itu buat saya. Sori, baru sekarang bisa berterimakasihnya. Besok-besok kasih undian lagi ya.

Info buat mbak Latree : aku dah dipisuhi mas abdee :(

Popularity: 37% [?]

February 19th, 2009
By phery Posted in Humor Alternatif

Kasus Sandal Selen

Siang ini di kantor ada kejadian yang sangat lucu. Saking lucunya sampe bikin malu sang korban yang menjadi obyek kehebohan itu. Awalnya, di garasi kantor terdapat sepasang sandal cewek yang berbeda bentuk antara sandal kanan dan kirinya.

Pertamanya sih cuek aja ngelihatnya tapi kok setelah lirik kiri kanan gak ada sandal lainnya yang sejenis akhirnya diselidikilah sandal itu oleh teman-teman yang penasaran. Mungkin karena waktu itu sedang makan siang jadi sandal sepatu yang ada juga masih sedikit.

Tapi, setelah jam 3 sore ini dilihat lagi oleh salah seorang teman ternyata sepasang sandal itu masih setia melekat di sisi kiri dan kanan. Naluri detektif kami mulai muncul kembali setelah 3 tahun lamanya vakum (maklum, kantor kami sebelum jadi kantor IT adalah kantor detektif).

Usut punya usut, selidik demi selidik, tanya sana tanya sini, akhirnya tim detektif depan berhasil mengerucutkan tersangka menjadi satu, yaitu Dian (bukan nama sebenarnya, red.). Dipanggillah Dian oleh jajaran manajemen untuk segera mengakui kekhilafannya tersebut dan bersiap menjalani hukuman yang bakal diterimanya.

Setelah dibawa oleh keamanan kantor, Bapak Supriyanto, lemaslah Dian yang mendapati barang bukti yang dibawa oleh tim detektif dan manajemen. Dian tidak bisa menampik bahwa barang bukti sepasang sandal selen (gak sama) itu adalah benar-benar alat yang digunakannya untuk mengacaukan kinerja kantor hari ini.

Dengan penuh rasa malu Dian menunduk dan mengakui kesalahannya dan siap menerima ganjaran apapun yang akan diberikan oleh manajemen kepadanya.

Informasi : nama dan alamat tersangka ada di meja redaksi.

Popularity: 53% [?]

February 19th, 2009
By phery Posted in Catatan Ringan

Dianggap Remeh

Ada beberapa hal yang sering terjadi dalam hidup yang bisa membuat jengkel. Namun saya hanya akan mencontohkan satu saja, yaitu DIANGGAP REMEH. Mungkin hal itu biasa saja bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian lainnnya hal itu seperti sebuah penghinaan.

Kalau sekali saja sih bukan menjadi masalah, kemungkinan karena yang menganggap remeh itu mungkin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tetapi kalau kasusnya selalu berulang-ulang bahkan selalu menjadi pembahasan saat bertemu tentunya patut diwaspadai motif seseorang tersebut dalam meremehkan.

Bisa saja sejak awal dia memang berniat mengganggap remeh atau memang kebiasaannya suka ngomong hal-hal seperti itu. Padahal dia sudah dianggap atau bahkan memang menjadi teman sehari-hari meskipun tidak setiap waktu.

Menganggap remeh kemampuan seseorang apalagi mengenai kerjaan orang tersebut tentunya bisa menghancurkan rasa kepercayaan diri dalam bekerja orang yang dianggap remeh tersebut. Dia jadi berpikir ulang, apa iya kerjaannya selama ini belum maksimal atau bahkan tidak sebanding dengan kerjaan orang lain yang terlihat selalu maju dan bisa menjadi kebanggaan bagi perusahaan.

Ada sebuah contoh nyata yang pernah terjadi dalam sebuah obrolan antara 2 orang dari Divisi B dan C yang membahas kerjaan masing-masing. Beberapa waktu berikutnya datanglah teman dari Divisi A di tempat itu namun tidak ikut nimbrung dalam obrolan tersebut. Tiba-tiba salah seorang teman itu langsung berbicara, “Kerjaan yang paling gampang itu ya kerjaan di Divisi A”.

Apa maksud dari si teman itu yang tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan ke teman dari Divisi A padahal teman itu tidak ikut ngobrol. Bahkan, pembicaraan seperti itu sering dilakukan oleh yang bersangkutan kepada temannya itu.

Nah, di sini aku pengen share aja sama teman-teman yang baca blog ini. Apakah temen-temen punya tips atau trik untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi 2 orang teman itu?

Popularity: 23% [?]

February 2nd, 2009
By phery Posted in Napak Tilas

Konvoi Kampanye Era Orde Baru

Setelah membaca salah satu postingan dari Mbak Madasari, Saya jadi teringat saat mengikuti kampanye terakhir era orde baru pada tahun 1997. Kala itu Saya yang masih kelas 3 SMP ikut kampanye PPP yang saat itu merupakan partai minoritas diantara 3 partai yang diakui pemerintah kala itu.

Sebagai anak muda yang masih bergejolak darah mudanya, ketertarikan kami adalah melakukan konvoi keliling dengan motor meraung-raung tanpa mempedulikan apa isi dari kampanye-kampanye yang dilakukan jurkam saat itu.

Sangat jelas di ingatan Saya saat itu bahwa untuk melakukan konvoi dengan atribut parpol minoritas tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus tetap berkelompok dan di jalur yang ditentukan oleh pemimpin rombongan.

Maklum, di era orde baru itu dalam hal kampanye pemilu tidaklah setransparan sejak masa reformasi mulai digulirkan. Apalagi kala itu saya merupakan anak PNS yang mau tidak mau harus menjadi pemilih partai paling mayoritas, Golkar.

Dalam berkonvoi kami harus berada di jalur yang ditentukan dan harus sudah selesai saat maghrib datang. Di tempat itu juga kami harus segera mencopot segala macam atribut parpol yang kami bawa termasuk kaos sekalipun.

Bila tidak? Saya melihat sendiri pengendara motor di depan Saya harus menerima pentungan Pak Polisi yang terhormat. Walhasil kami yang berada di belakangnya harus mematuhi perintah sang aparat.

Belakangan Saya ketahui, bahwa yang dilakukan Polisi tersebut untuk kebaikan kami juga agar terhindar dari hal-hal yang “menakutkan” yang tidak kami kehendaki. Wajar saja, masa itu yang tidak mendukung partai mayoritas dianggap “mbalelo” sama pemerintah.

Popularity: 100% [?]