February 19th, 2009
By phery Posted in Humor Alternatif

Kasus Sandal Selen

Siang ini di kantor ada kejadian yang sangat lucu. Saking lucunya sampe bikin malu sang korban yang menjadi obyek kehebohan itu. Awalnya, di garasi kantor terdapat sepasang sandal cewek yang berbeda bentuk antara sandal kanan dan kirinya.

Pertamanya sih cuek aja ngelihatnya tapi kok setelah lirik kiri kanan gak ada sandal lainnya yang sejenis akhirnya diselidikilah sandal itu oleh teman-teman yang penasaran. Mungkin karena waktu itu sedang makan siang jadi sandal sepatu yang ada juga masih sedikit.

Tapi, setelah jam 3 sore ini dilihat lagi oleh salah seorang teman ternyata sepasang sandal itu masih setia melekat di sisi kiri dan kanan. Naluri detektif kami mulai muncul kembali setelah 3 tahun lamanya vakum (maklum, kantor kami sebelum jadi kantor IT adalah kantor detektif).

Usut punya usut, selidik demi selidik, tanya sana tanya sini, akhirnya tim detektif depan berhasil mengerucutkan tersangka menjadi satu, yaitu Dian (bukan nama sebenarnya, red.). Dipanggillah Dian oleh jajaran manajemen untuk segera mengakui kekhilafannya tersebut dan bersiap menjalani hukuman yang bakal diterimanya.

Setelah dibawa oleh keamanan kantor, Bapak Supriyanto, lemaslah Dian yang mendapati barang bukti yang dibawa oleh tim detektif dan manajemen. Dian tidak bisa menampik bahwa barang bukti sepasang sandal selen (gak sama) itu adalah benar-benar alat yang digunakannya untuk mengacaukan kinerja kantor hari ini.

Dengan penuh rasa malu Dian menunduk dan mengakui kesalahannya dan siap menerima ganjaran apapun yang akan diberikan oleh manajemen kepadanya.

Informasi : nama dan alamat tersangka ada di meja redaksi.

Popularity: 54% [?]

February 19th, 2009
By phery Posted in Catatan Ringan

Dianggap Remeh

Ada beberapa hal yang sering terjadi dalam hidup yang bisa membuat jengkel. Namun saya hanya akan mencontohkan satu saja, yaitu DIANGGAP REMEH. Mungkin hal itu biasa saja bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian lainnnya hal itu seperti sebuah penghinaan.

Kalau sekali saja sih bukan menjadi masalah, kemungkinan karena yang menganggap remeh itu mungkin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tetapi kalau kasusnya selalu berulang-ulang bahkan selalu menjadi pembahasan saat bertemu tentunya patut diwaspadai motif seseorang tersebut dalam meremehkan.

Bisa saja sejak awal dia memang berniat mengganggap remeh atau memang kebiasaannya suka ngomong hal-hal seperti itu. Padahal dia sudah dianggap atau bahkan memang menjadi teman sehari-hari meskipun tidak setiap waktu.

Menganggap remeh kemampuan seseorang apalagi mengenai kerjaan orang tersebut tentunya bisa menghancurkan rasa kepercayaan diri dalam bekerja orang yang dianggap remeh tersebut. Dia jadi berpikir ulang, apa iya kerjaannya selama ini belum maksimal atau bahkan tidak sebanding dengan kerjaan orang lain yang terlihat selalu maju dan bisa menjadi kebanggaan bagi perusahaan.

Ada sebuah contoh nyata yang pernah terjadi dalam sebuah obrolan antara 2 orang dari Divisi B dan C yang membahas kerjaan masing-masing. Beberapa waktu berikutnya datanglah teman dari Divisi A di tempat itu namun tidak ikut nimbrung dalam obrolan tersebut. Tiba-tiba salah seorang teman itu langsung berbicara, “Kerjaan yang paling gampang itu ya kerjaan di Divisi A”.

Apa maksud dari si teman itu yang tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan ke teman dari Divisi A padahal teman itu tidak ikut ngobrol. Bahkan, pembicaraan seperti itu sering dilakukan oleh yang bersangkutan kepada temannya itu.

Nah, di sini aku pengen share aja sama teman-teman yang baca blog ini. Apakah temen-temen punya tips atau trik untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi 2 orang teman itu?

Popularity: 23% [?]

February 2nd, 2009
By phery Posted in Napak Tilas

Konvoi Kampanye Era Orde Baru

Setelah membaca salah satu postingan dari Mbak Madasari, Saya jadi teringat saat mengikuti kampanye terakhir era orde baru pada tahun 1997. Kala itu Saya yang masih kelas 3 SMP ikut kampanye PPP yang saat itu merupakan partai minoritas diantara 3 partai yang diakui pemerintah kala itu.

Sebagai anak muda yang masih bergejolak darah mudanya, ketertarikan kami adalah melakukan konvoi keliling dengan motor meraung-raung tanpa mempedulikan apa isi dari kampanye-kampanye yang dilakukan jurkam saat itu.

Sangat jelas di ingatan Saya saat itu bahwa untuk melakukan konvoi dengan atribut parpol minoritas tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus tetap berkelompok dan di jalur yang ditentukan oleh pemimpin rombongan.

Maklum, di era orde baru itu dalam hal kampanye pemilu tidaklah setransparan sejak masa reformasi mulai digulirkan. Apalagi kala itu saya merupakan anak PNS yang mau tidak mau harus menjadi pemilih partai paling mayoritas, Golkar.

Dalam berkonvoi kami harus berada di jalur yang ditentukan dan harus sudah selesai saat maghrib datang. Di tempat itu juga kami harus segera mencopot segala macam atribut parpol yang kami bawa termasuk kaos sekalipun.

Bila tidak? Saya melihat sendiri pengendara motor di depan Saya harus menerima pentungan Pak Polisi yang terhormat. Walhasil kami yang berada di belakangnya harus mematuhi perintah sang aparat.

Belakangan Saya ketahui, bahwa yang dilakukan Polisi tersebut untuk kebaikan kami juga agar terhindar dari hal-hal yang “menakutkan” yang tidak kami kehendaki. Wajar saja, masa itu yang tidak mendukung partai mayoritas dianggap “mbalelo” sama pemerintah.

Popularity: 100% [?]

January 24th, 2009
By phery Posted in Catatan Ringan

Gagal Bertemu Anangku

anangkuKesempatan emas untuk bertemu dan melihat langsung mas Anang yang konon disebut sebagai nabi blogger Indonesia pupus sudah. Pasalnya, setelah ditunggu-tunggu di Alun-alun Kidul selama 2 jam lebih ternyata beliau tak kunjung muncul.

Menurut rencana, mas Anang bersama rombongan blogger Surabaya dari komunitas TPC bakal menjamah Jogja untuk bersua dengan komunitas blogger Jogja CahAndong dan bermain masangin (masuk diantara dua beringin) di Alun-alun Kidul.

Awalnya tidak ada niat untuk bersua dengan rombongan tamu agung itu sebelum ditelpon sama mas abdee yang mengajak sama-sama datang ke alkid. Maklum, dari rumah Ngadisuryan ke Alkid bisa dilalui dengan jalan 5 menit saja.

Tapi apa daya, sesampai di sana ternyata rombongan TPC belum muncul juga. Belakangan yang berseliweran adalah beberapa teman dari CA. Apalagi hujan deras mulai turun.

Untuk mengisi kekosongan dan menunggu kami berdua menonton persiapan pentas wayang kulit yang bakal digelar di pelataran Sasono Hinggil malam ini. Ternyata, hingga waktu maghrib tamu jauh yang ditunggu belum kunjung datang. Terpaksa kami memutuskan pulang lebih dulu.

Sayang sekali kesempatan berharga itu belum bisa terjadi. Memang benar apa yang didesus-desuskan oleh para blogger kalo kesempatan untuk bertemu sang nabi blogger Indonesia sangat susah. Mungkin kita memang belum berjodoh.

Popularity: 37% [?]

January 19th, 2009
By phery Posted in Cerita Singkat

Saat Birokrasi Terasa Membingungkan

Akhirnya saya merasakan sendiri betapa ribet dan repotnya birokrasi di Indonesia. Di saat berniat menjadi warganegara Indonesia yang baik yang akan membuat akte kelahiran untuk Avid, berbuah kegagalan.

Berkas-berkas yang kulampirkan ke ibu petugas Dinas Perizinan Kota Jogja yang terhormat ternyata dikembalikan dan ditolak untuk keduakalinya. Sudah yang keduakalinya? Kok bisa?

Pertamanya begini, sehari setelah Avid lahir (22 Sep 08) langsung saya membuat dan mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan untuk membuat akte kelahiran. Sebagai warganegara yang menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara wajar dong kalau mau buat akte kelahiran.

Tiga minggu waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan berkas-berkas tersebut (Kartu Keluarga, Surat Keterangan Lahir dan Kelurahan dan Kecamatan). Karena takut telat, datanglah Saya ke kantor Dinas Perizinan Kota Jogja yang tampak megah dan berwibawa.

Ternyata kedatangan saya yang perdana ini ditolak oleh sang ibu petugas dengan alasan si anak lahir di luar kota Jogja (Avid lahir di JIH yang berada di Kabupaten Sleman).

Si ibu bilang Saya harus menunggu 60 hari kerja agar bisa membuat akte kelahiran di kota Jogja, tentu saja dianggap terlambat dan kena denda Rp 30.000. Oke bu, sudah saya catat baik-baik perkataan ibu. + Continue Reading

Popularity: 38% [?]